Contoh Cerpen Bahasa Indonesia
Jadi, ini adalah salah satu cerpen yang aku buat atas permintaan guru Bahasa Indonesia kelas X. Cerpen ini dikumpulkan seharii sebelum ulangan kenaikan kelas untuk melengkapi nilai ulangan harianku yang masih di bawah KKM. Kalau file dari komputerku terhapus, setidaknya aku bisa membacanya dari blog-ku.
Salah Tanggal
Hari Jumat menjadi hari
paling menyebalkan bagi siswa kelas X IPA-1 karena harus dipertemukan dengan
mata pelajaran yang sama selama tiga kali jam pelajaran. Matematika, mendengar
namanya pun membuat para siswa yang baru lulus belajar aljabar menjadi semakin
takut karena akan segera dihadapkan pada sistematika logaritma.
Pelajaran matematika
yang membahas tentang logaritma telah menghabiskan seratus tiga puluh lima
menit, atau tiga jam pelajaran. Dengan berkumandangnya bel istirahat diikuti
berdirinya Pak Ardan, membuat para siswa lega melihatnya. Ketika hati mereka
lega akan berakhirnya jam matematika dan melodi indah logaritma, seorang siswa tiba-tiba
berdiri.
“Hari ini kita
mengumpulkan tugas membuat teks hikayat minggu lalu, ‘kan?” Ranti menyeletuk,
membuat Aldan menumpahkan minumannya, Santi ternganga, dan Abdur menjatuhkan
ponsel yang semula digenggamnya.
“Aku belum bikin!”
Teriak Santi panik. Ia membatalkan niatnya untuk bergosip dengan Anita siang
itu. Ia segera kembali ke tempat duduknya.
“Siapa yang udah
selesai? Aku nyontek dong.” Suara Abdur menambah kepanikan para siswa.
Setidaknya masih ada
sepuluh menit sisa jam istirahat sebelum akhirnya guru Bahasa Indonesia mereka
masuk ke kelas. Namun dengan santainya, Gilang justru menghabiskan makan siangnya
tanpa peduli dengan tugas Teks Hikayat yang membuat teman sekelasnya panik.
Hingga jam istirahat tersisa lima menit, sikap Gilang yang terlalu santai
membuat teman sekelasnya heran. Padahal guru Bahasa Indonesia mereka adalah
salah satu guru yang dianggap galak oleh para siswa di sekolahnya.
“Lang! Udah ngerjain
tugas?” Tanya Aldan menghampiri Gilang yang duduk dengan santainya.
“Tugas apa?” Gilang
balik bertanya dengan santai.
“Tugas membuat Teks
Hikayat dari minggu lalu. Hari ini ada jadwal pelajaran Bahasa Indonesia loh…”
Ujar Aldan semakin heran mendapati tanggapan Gilang.
“Ooh itu. Aku sih belum
ngerjain.”
“Kok kamu santai banget
sih?”
“Sini deh, aku kasih
tahu.” Ucap Gilang setengah berbisik. Membuat Aldan mendekatkan telinganya.
“Hari ini kita pulang
pagi, soalnya guru-guru mau ke acara nikahannya anak kepala sekolah kita.”
Bisik Gilang.
“Beneran?” Aldan
membulatkan matanya.
“Iya.”
“Tapi, bukannya anak
kepala sekolah kita cuma satu. Yang kemarin itu…” Aldan menggumam sendiri.
“Lihat aja, sebentar
lagi juga pasti ada pemberitahuan pulang pagi dari kesiswaan.” Tambah Gilang.
Gilang memang anak guru
sejarah di sekolah ini, ia selalu tahu lebih dulu tentang acara sekolah dan
kegiatan guru yang mungkin murid lain belum tahu. Hal ini sering kali
membuatnya menyepelakan hal-hal penting berkaitan dengan tugas sekolah.
Lima menit berakhir,
bel pergantian jam telah dibunyikan. Dengan percaya diri, Gilang merapikan
semua alat tulisnya masuk ke dalam tas. Setelah sepuluh menit berlalu, guru
Bahasa Indonesia tak kunjung datang, pengumuman pulang pagi pun tak kunjung
dikumandangkan. Para siswa mulai ribut menerka-nerka kejadian yang tak biasa
ini. Untuk pertama kalinya guru Bahasa Indonesia mereka terlambat masuk.
Berbeda dengan Gilang
yang terus menerka-nerka mengapa pengumuman pulang pagi tak kunjung
dikumandangkan oleh guru kesiswaan. Namun dengan rasa percaya diri yang tinggi,
ia tetap tenang dengan keyakinan bahwa hari ini pulang pagi. Ia memainkan
ponsel dengan ransel yang sudah terpasang di punggungnya.
“Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokaatuh. Maaf anak-anak, hari ini saya telat karena ada
sedikit kendala sewaktu perjalanan kemari.” Pak Dodi, guru Bahasa Indonesia
yang terkenal disiplin itu memasuki kelas X IPA-1.
“Iya Pak.” Jawab seisi
kelas dengan serempak.
“Minggu lalu saya beri
tugas untuk membuat Teks Hikayat. Sudah dikerjakan?” Pertanyaan itu membuat
seisi kelas menghela napas lega karena dengan keterbatasan waktu mampu
menyelesaikan tugas tersebut. Kecuali Gilang yang mulai berkeringat dan
berkali-kali menelan salivanya.
“Maaf Pak!” Gilang
mengangkat tangannya. Menyita perhatian teman-teman sekelasnya pula.
“Iya. Ada apa Gilang?”
“Bukannya hari ini kita
akan pulang pagi?” Tanya Gilang di antara teman-temannya yang terbungkam.
“Pulang pagi dalam
rangka apa?” Pak Dodi balik bertanya seraya menahan tawanya yang hampir pecah.
“Kalau tidak salah hari
ini guru-guru akan pergi ke acara pernikahan anak kepala sekolah.” Jelas Gilang
dengan penuh percaya diri.
“Kamu tahu darimana?”
“Dari undangannya Pak.”
Gilang mengambil undangan pernikahan anak kepala sekolah dari dalam ranselnya.
“Oh gitu. Coba kamu
lihat lagi tanggal resepsinya.” Perintah Pak Dodi.
Gilang membulatkan
kedua matanya membaca tanggal acara resepsi dan membandingkannya dengan tanggal
hari ini di kalender. Di undangannya jelas tertulis bahwa acara resepsi tanggal
25 November 2019, sementara hari ini adalah 26 November 2019.
“Sudah, jujur saja.
Kamu belum membuat Teks Hikayat yang saya minta minggu lalu, ‘kan?” Pak Dodi
menanyakannya dengan senyum membunuh.
“I, iya, Pak.” Gilang
tergagap menjawab Pak Dodi.
“Lebih baik sekarang
kamu kerjakan. Dan tugas khusus untuk kamu, buatlah dua Teks Hikayat yang
berbeda. Bisa dikerjakan mulai sekarang, karena harus kamu kumpulkan sebelum
bel jam terakhir nanti. Silakan.” Pak Dodi mengangkat tangan kirinya
memersilakan Gilang untuk mengerjakan.
Memang sudah seperti
itu takdir yang harus diterima Gilang ketika menghadapi gurunya yang tersayang.
Dengan Pak Dodi menyilakannya untuk mengerjakan, sama artinya dengan mengusir
Gilang dari dalam kelas.
Terimakasih sudah mengunjungi blog-ku.
Kalian bisa klik link di bawah untuk tahu lebih banyak tentangku :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar