Rabu, 11 Maret 2020

Salah Tanggal - Contoh Cerpen Bahasa Indonesia


 Contoh Cerpen Bahasa Indonesia

Jadi, ini  adalah salah satu cerpen yang aku buat atas permintaan guru Bahasa Indonesia kelas X. Cerpen ini dikumpulkan seharii sebelum ulangan kenaikan kelas untuk melengkapi nilai ulangan harianku yang masih di bawah KKM. Kalau file dari komputerku terhapus, setidaknya aku bisa membacanya dari blog-ku.
 

Salah Tanggal


Hari Jumat menjadi hari paling menyebalkan bagi siswa kelas X IPA-1 karena harus dipertemukan dengan mata pelajaran yang sama selama tiga kali jam pelajaran. Matematika, mendengar namanya pun membuat para siswa yang baru lulus belajar aljabar menjadi semakin takut karena akan segera dihadapkan pada sistematika logaritma.
Pelajaran matematika yang membahas tentang logaritma telah menghabiskan seratus tiga puluh lima menit, atau tiga jam pelajaran. Dengan berkumandangnya bel istirahat diikuti berdirinya Pak Ardan, membuat para siswa lega melihatnya. Ketika hati mereka lega akan berakhirnya jam matematika dan melodi indah logaritma, seorang siswa tiba-tiba berdiri.
“Hari ini kita mengumpulkan tugas membuat teks hikayat minggu lalu, ‘kan?” Ranti menyeletuk, membuat Aldan menumpahkan minumannya, Santi ternganga, dan Abdur menjatuhkan ponsel yang semula digenggamnya.
“Aku belum bikin!” Teriak Santi panik. Ia membatalkan niatnya untuk bergosip dengan Anita siang itu. Ia segera kembali ke tempat duduknya.
“Siapa yang udah selesai? Aku nyontek dong.” Suara Abdur menambah kepanikan para siswa.
Setidaknya masih ada sepuluh menit sisa jam istirahat sebelum akhirnya guru Bahasa Indonesia mereka masuk ke kelas. Namun dengan santainya, Gilang justru menghabiskan makan siangnya tanpa peduli dengan tugas Teks Hikayat yang membuat teman sekelasnya panik. Hingga jam istirahat tersisa lima menit, sikap Gilang yang terlalu santai membuat teman sekelasnya heran. Padahal guru Bahasa Indonesia mereka adalah salah satu guru yang dianggap galak oleh para siswa di sekolahnya.
“Lang! Udah ngerjain tugas?” Tanya Aldan menghampiri Gilang yang duduk dengan santainya.
“Tugas apa?” Gilang balik bertanya dengan santai.
“Tugas membuat Teks Hikayat dari minggu lalu. Hari ini ada jadwal pelajaran Bahasa Indonesia loh…” Ujar Aldan semakin heran mendapati tanggapan Gilang.
“Ooh itu. Aku sih belum ngerjain.”
“Kok kamu santai banget sih?”
“Sini deh, aku kasih tahu.” Ucap Gilang setengah berbisik. Membuat Aldan mendekatkan telinganya.
“Hari ini kita pulang pagi, soalnya guru-guru mau ke acara nikahannya anak kepala sekolah kita.” Bisik Gilang.
“Beneran?” Aldan membulatkan matanya.
“Iya.”
“Tapi, bukannya anak kepala sekolah kita cuma satu. Yang kemarin itu…” Aldan menggumam sendiri.
“Lihat aja, sebentar lagi juga pasti ada pemberitahuan pulang pagi dari kesiswaan.” Tambah Gilang.
Gilang memang anak guru sejarah di sekolah ini, ia selalu tahu lebih dulu tentang acara sekolah dan kegiatan guru yang mungkin murid lain belum tahu. Hal ini sering kali membuatnya menyepelakan hal-hal penting berkaitan dengan tugas sekolah.
Lima menit berakhir, bel pergantian jam telah dibunyikan. Dengan percaya diri, Gilang merapikan semua alat tulisnya masuk ke dalam tas. Setelah sepuluh menit berlalu, guru Bahasa Indonesia tak kunjung datang, pengumuman pulang pagi pun tak kunjung dikumandangkan. Para siswa mulai ribut menerka-nerka kejadian yang tak biasa ini. Untuk pertama kalinya guru Bahasa Indonesia mereka terlambat masuk.
Berbeda dengan Gilang yang terus menerka-nerka mengapa pengumuman pulang pagi tak kunjung dikumandangkan oleh guru kesiswaan. Namun dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia tetap tenang dengan keyakinan bahwa hari ini pulang pagi. Ia memainkan ponsel dengan ransel yang sudah terpasang di punggungnya.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh. Maaf anak-anak, hari ini saya telat karena ada sedikit kendala sewaktu perjalanan kemari.” Pak Dodi, guru Bahasa Indonesia yang terkenal disiplin itu memasuki kelas X IPA-1.
“Iya Pak.” Jawab seisi kelas dengan serempak.
“Minggu lalu saya beri tugas untuk membuat Teks Hikayat. Sudah dikerjakan?” Pertanyaan itu membuat seisi kelas menghela napas lega karena dengan keterbatasan waktu mampu menyelesaikan tugas tersebut. Kecuali Gilang yang mulai berkeringat dan berkali-kali menelan salivanya.
“Maaf Pak!” Gilang mengangkat tangannya. Menyita perhatian teman-teman sekelasnya pula.
“Iya. Ada apa Gilang?”
“Bukannya hari ini kita akan pulang pagi?” Tanya Gilang di antara teman-temannya yang terbungkam.
“Pulang pagi dalam rangka apa?” Pak Dodi balik bertanya seraya menahan tawanya yang hampir pecah.
“Kalau tidak salah hari ini guru-guru akan pergi ke acara pernikahan anak kepala sekolah.” Jelas Gilang dengan penuh percaya diri.
“Kamu tahu darimana?”
“Dari undangannya Pak.” Gilang mengambil undangan pernikahan anak kepala sekolah dari dalam ranselnya.
“Oh gitu. Coba kamu lihat lagi tanggal resepsinya.” Perintah Pak Dodi.
Gilang membulatkan kedua matanya membaca tanggal acara resepsi dan membandingkannya dengan tanggal hari ini di kalender. Di undangannya jelas tertulis bahwa acara resepsi tanggal 25 November 2019, sementara hari ini adalah 26 November 2019.
“Sudah, jujur saja. Kamu belum membuat Teks Hikayat yang saya minta minggu lalu, ‘kan?” Pak Dodi menanyakannya dengan senyum membunuh.
“I, iya, Pak.” Gilang tergagap menjawab Pak Dodi.
“Lebih baik sekarang kamu kerjakan. Dan tugas khusus untuk kamu, buatlah dua Teks Hikayat yang berbeda. Bisa dikerjakan mulai sekarang, karena harus kamu kumpulkan sebelum bel jam terakhir nanti. Silakan.” Pak Dodi mengangkat tangan kirinya memersilakan Gilang untuk mengerjakan.
Memang sudah seperti itu takdir yang harus diterima Gilang ketika menghadapi gurunya yang tersayang. Dengan Pak Dodi menyilakannya untuk mengerjakan, sama artinya dengan mengusir Gilang dari dalam kelas.




Terimakasih sudah mengunjungi blog-ku.
Kalian bisa klik link di bawah untuk tahu lebih banyak tentangku :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar