Contoh Cerpen Bahasa Indonesia 2
Jadi, ini adalah salah satu cerpen yang aku buat atas permintaan guru Bahasa Indonesia kelas X. Cerpen ini dikumpulkan seharii sebelum ulangan kenaikan kelas untuk melengkapi nilai ulangan harianku yang masih di bawah KKM. Kalau file dari komputerku terhapus, setidaknya aku bisa membacanya dari blog-ku.Nilai Tak Sejalan dengan Solidaritas
Siang
menuju sore, waktu yang paling nyaman untuk mengistirahatkan mata yang lelah
seharian menatap kesibukan dunia. Tidur siang merupakan waktu paling
berkualitas, lebih-lebih untuk anak SMA yang setiap harinya harus pulang
sekolah pukul empat sore. Hari Sabtu dan Minggu yang menjadi pelampiasan mereka
untuk menghabiskan weekend dengan
istirahat. Karena ketika dihadapkan pada hari aktif Senin sampai dengan Jumat,
hanya ada dua hal yang melekat pada diri seorang anak SMA.
Hal
pertama adalah tugas tanpa ujung. Tak ada hari aktif yang bisa digunakan untuk
sekedar merebahkan diri di tempat tidur ketika waktu menunjukkan siang. “Tak
ada hari tanpa tugas.” Kutipan protes dari jiwa-jiwa lelah yang selalu
menggentayangi kehidupan anak SMA. Belum lagi ketika mereka mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler yang juga memakan waktu.
Hal
kedua yang melekat pada diri anak SMA kedua adalah lelah, penat, capai, entah
kiasan apalagi yang bisa digambarkan untuk memperjelas kata ‘Lelah’, dan entah
perlu usaha apalagi untukseorang guru memahami kata ‘Lelah’ yang dirasakan
muridnya. Dua hal itu seperti aspek penting yang seolah menjadi sebab akibat
dalam lingkaran yang terus berputar.
Siang
itu, tepatnya adalah siang dihari Minggu. Waktu terbaik untuk Hanna
beristirahat setelah lima hari menikmati lelahnya menempuh pendidikan sebagai
anak SMA. Sekitar pukul dua siang ia baru bisa menutup matanya setelah
menyelesaikan tugas rumah di akhir pekan. Sekira pukul empat sore, ia terbangun
dan melanjutkan rutinitasnya tiap hari Minggu setiap sore hari, ia melanjutkan
novel yang ia tulis sendiri di laptopnya.
Pukul
enam petang, Hanna masih terfokus dengan laptopnya, entah mengapa, hari ini ia
begitu antusias melanjutkan karangannya itu. Setelah dua jam berada di depan
monitornya, ia telah menghasilkan lima belas halaman cerita spontan tanpa
kerangka. Hingga akhirnya ia menutup laptopnya dan memutuskan untuk
beristirahat sejenak ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam.
“Hanna,
sudah dulu main laptopnya, makan malam dulu.” Ucap ibunya yang kini tengah
menyiapkan makan malam.
“Iya
Bun..” Balas Hanna sembari menutup laptopnya dan segera turun ke ruang makan.
“Masak
apa Bun?” Tanya Hanna basa-basi, sejujurnya makanan apapun jika dibuat oleh
tangan bundanya, takkan ada yang tak nikmat jika sudah di depan mata.
“Tumis
jamur.” Jawab bunda Hanna dengan senyum lebarnya.
Tanpa
diperintah lagi, Hanna segera mengambil piringnya dan mnegisi dengan nasi
sekaligus lauk yang telah bundanya masak. Tak perlu waktu lama, ia telah
menghabiskan makanan buatan bundanya itu. Beberapa saat, Ia tertahan di meja
makan dengan obrolan ringan bersama orangtuanya. Hingga pukul Sembilan lebih
dua puluh lima menit, ia baru kembali ke
kamarnya.
Sesampainya
di kamar, ia mencuci muka dan menggosok gigi untuk persiapan menuju ke alam
mimpi. Keluar dari kamar mandi, ia kembali memeriksa jadwal pelajaran untuk
besok dan mempersiapkan buku, serta alat sekolah lain yang perlu ia bawa.
Setelah yakin, ia pun menuju ke kasurnya. Merasa seperti ada yang kurang, ia
pun memeriksa ponselnya. Notifikasi di ponselnya telah menumpuk karena seharian
ini Hanna belum membuka ponselnya smaa sekali. Ketika ia membukanya, hanya satu
yang paling ramai, grup chat kelasnya.
“Gimana
besok?” Alfi membuka chat di grup kelas.
“Tugas
dari pak Dhani?” Tanya Dio
“Aaaah..,
gue belum ngerjain.” Timpal Febi.
“Dikumpulin
besok?” Tambah Hilmi.
“Iyaa.”
Jawab yang lain.
“Katanya
sih gitu.”
“Ada
yang udah ngerjain?” Tanya Alfi.
“Belum.”
Jawab Rika
“Belum.”
Balas Dini.
“Belum.”
Timpal yang lain
“Kagak
gua kerjain.” Tambah yang Rika.
“Tugasnya
yang disuruh bikin teks laporan hasil observasi waktu itu kan?” Alfi kembali
meyakinkan.
“Iya.”
“Eh,
nggak usah dikerjain ya. Nggak bisa mikir gue.” Celetuk Dio.
“Hah?
Beneran nih?” Tanya yang lain.
“Iya,
setuju tuh. Nggak usah dikerjain, alingan Pak Dhani juga udah lupa.” Balas
Febi.
“Siaap.”
Ujar Hilmi
“Beneran
nggak usah dikerjain nih ya..” Alfi kembali meyakinkan teman-teman sekelasnya.
“Iya
bener. Udah ngantuk nih..” Timpal yang lain.
“Okay
siip.”
“Mantap.”
“Assiaap.”
“Siip
deh.”
Hanna
membacanya, kemudian memastikan kepada teman-teman sekelasnya tentang
kesepakatan besok. Dan semuanya setuju untuk tidak mengumpulkan tugas dari pak
Dhani. Ia pun mencari posisi ternyamannya dan tidur pukul sepuluh malam itu.
Pagi
harinya, Hanna kembali memeriksa ponsel, ia kembali meyakinkan bahwa tugas
menulis teks laporan hasil observasi tidak akan dikumpulkan hari ini.
Sesampainya di sekolah, semua temannya benar-benar berakting seolah tidak ada
tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia mereka.
“Selamat
pagi anak-anak!” Sapa guru bahasa Indonesia yang terkenal galak itu ketika memasuki
ruang kelas X IPA-1.
“Pagi
pak..” Balas seluruh isi kelas dengan serempak.
“Terakhir,
kita sampai mana?” Tanya Pak Dhani membuka-buka buku besarnya itu.
“Teks
hasil observasi Pak.” Jawab Hanna yang duduk di bangku terdepan dan paling
dekat dengan guru.
“Pertemuan
sebelumnya saya suruh membuat teks laporan hasl observasi tentang sekolah kita
ya?”
“Hah?
Tugas? Belum ada tugas pak.” Ujar Alfi mulai berakting.
“Oh
belum, padahal kelas ini sudah hampir selesai materi tentang teks laporan hasil
observasi loh..”
“Pak!”
Seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang mengangkat tangannya. Semua
pandangan menuju ke arah cewek itu.
“Ya,
ada apa?” Pak Dhani melihat kea rah cewek itu.
“Saya
mau mengumpulkan tugas dari pertemuan
yang lalu.” Cewek itu menyodorkan empat lembar kertas dengan judul yang dicetak
tebal bertulis ‘Menulis Teks Laporan Hasil Observasi’.
Seisi
kelas bergumam dan bahkan bergunjing melihat tingkah cewek penghuni kelas X
IPA-1 yang tak menunjukkan solidaritasnya. Tak terkecuali Hanna. Ia menatap
sinis ke arah cewek itu. Pak Dhani pun
berdiri dan menanyai satu persatu dari tiga puluh lima siswa yang tidak
mengumpulkan tugas menulis teks laporan hasil observasi itu.
“Kenapa
nggak mengumpulkan teks laporan hasil observasi yang saya minta?” Tanya Pak
Dhani menghampiri meja Hanna.
“Belum
bikin pak.” Jawab Hanna.
“Kenapa
belum bikin?”
“Banyak
tugas lain pak, selain membuat teks hasil observasi. Kemarin saya ikut lomba,
semalam baru pulang dan belum saya kerjakan.” Jawabnya. Begitulah mayoritas
siswa memberikan alasan sama ketika ditanya oleh Pak Dhani.
Setelah
menanyakan alasan setiap siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan, Pak
Dhani pun kembali duduk di kursi guru. Beliau tampak kesal dengan raut muka
marah. Ia menghela napas panjang kemudian berdri dan menuliskan tugas untuk
siswa kelas X IPA-1. Setelah menuliskan tugas untuk kelas X IPA-1 Pak Dhani
kembali duduk dan melipat tangannya di atas meja.
“Jadi,
tugas bagi kalian yang tidak mengumpulkan teks laporan hasil observasi hari ini,
untuk minggu depan, kalian harus membuat dua teks laporan hasil observasi
dengan dua objek observasi yang berbeda. Dan tugas ini harus dikumpulkan tepat
waktu, bagi yang tidak mengumpulkan, jangan harap nilai rapor kalian akan
bagus.” Ujar Pak Dhani tegas.
Seisi
kelas pun hening, namun masih ada beberapa siswa yang menatap sinis, bahkan menggunjing
cewek yang tidak menunjukkan solidaritas dengan teman sekelasnya itu. Seusai
pemberian tugas, Pak Dhani tetap memutuskan untuk melaksanakan ulangan harian
hari itu juga.
Terimakasih
sudah mengunjungi blog-ku.
Kalian
bisa klik link di bawah untuk tahu lebih banyak tentangku :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar