Rabu, 11 Maret 2020

Contoh Cerpen Bahasa Indonesia - Nilai Tak Sejalan dengan Solidaritas

 Contoh Cerpen Bahasa Indonesia 2

Jadi, ini  adalah salah satu cerpen yang aku buat atas permintaan guru Bahasa Indonesia kelas X. Cerpen ini dikumpulkan seharii sebelum ulangan kenaikan kelas untuk melengkapi nilai ulangan harianku yang masih di bawah KKM. Kalau file dari komputerku terhapus, setidaknya aku bisa membacanya dari blog-ku.


Nilai Tak Sejalan dengan Solidaritas


Siang menuju sore, waktu yang paling nyaman untuk mengistirahatkan mata yang lelah seharian menatap kesibukan dunia. Tidur siang merupakan waktu paling berkualitas, lebih-lebih untuk anak SMA yang setiap harinya harus pulang sekolah pukul empat sore. Hari Sabtu dan Minggu yang menjadi pelampiasan mereka untuk menghabiskan weekend dengan istirahat. Karena ketika dihadapkan pada hari aktif Senin sampai dengan Jumat, hanya ada dua hal yang melekat pada diri seorang anak SMA.
Hal pertama adalah tugas tanpa ujung. Tak ada hari aktif yang bisa digunakan untuk sekedar merebahkan diri di tempat tidur ketika waktu menunjukkan siang. “Tak ada hari tanpa tugas.” Kutipan protes dari jiwa-jiwa lelah yang selalu menggentayangi kehidupan anak SMA. Belum lagi ketika mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang juga memakan waktu.
Hal kedua yang melekat pada diri anak SMA kedua adalah lelah, penat, capai, entah kiasan apalagi yang bisa digambarkan untuk memperjelas kata ‘Lelah’, dan entah perlu usaha apalagi untukseorang guru memahami kata ‘Lelah’ yang dirasakan muridnya. Dua hal itu seperti aspek penting yang seolah menjadi sebab akibat dalam lingkaran yang terus berputar.
Siang itu, tepatnya adalah siang dihari Minggu. Waktu terbaik untuk Hanna beristirahat setelah lima hari menikmati lelahnya menempuh pendidikan sebagai anak SMA. Sekitar pukul dua siang ia baru bisa menutup matanya setelah menyelesaikan tugas rumah di akhir pekan. Sekira pukul empat sore, ia terbangun dan melanjutkan rutinitasnya tiap hari Minggu setiap sore hari, ia melanjutkan novel yang ia tulis sendiri di laptopnya.
Pukul enam petang, Hanna masih terfokus dengan laptopnya, entah mengapa, hari ini ia begitu antusias melanjutkan karangannya itu. Setelah dua jam berada di depan monitornya, ia telah menghasilkan lima belas halaman cerita spontan tanpa kerangka. Hingga akhirnya ia menutup laptopnya dan memutuskan untuk beristirahat sejenak ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam.
“Hanna, sudah dulu main laptopnya, makan malam dulu.” Ucap ibunya yang kini tengah menyiapkan makan malam.
“Iya Bun..” Balas Hanna sembari menutup laptopnya dan segera turun ke ruang makan.
“Masak apa Bun?” Tanya Hanna basa-basi, sejujurnya makanan apapun jika dibuat oleh tangan bundanya, takkan ada yang tak nikmat jika sudah di depan mata.
“Tumis jamur.” Jawab bunda Hanna dengan senyum lebarnya.
Tanpa diperintah lagi, Hanna segera mengambil piringnya dan mnegisi dengan nasi sekaligus lauk yang telah bundanya masak. Tak perlu waktu lama, ia telah menghabiskan makanan buatan bundanya itu. Beberapa saat, Ia tertahan di meja makan dengan obrolan ringan bersama orangtuanya. Hingga pukul Sembilan lebih dua puluh lima  menit, ia baru kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia mencuci muka dan menggosok gigi untuk persiapan menuju ke alam mimpi. Keluar dari kamar mandi, ia kembali memeriksa jadwal pelajaran untuk besok dan mempersiapkan buku, serta alat sekolah lain yang perlu ia bawa. Setelah yakin, ia pun menuju ke kasurnya. Merasa seperti ada yang kurang, ia pun memeriksa ponselnya. Notifikasi di ponselnya telah menumpuk karena seharian ini Hanna belum membuka ponselnya smaa sekali. Ketika ia membukanya, hanya satu yang paling ramai, grup chat kelasnya.
“Gimana besok?” Alfi membuka chat di grup kelas.
“Tugas dari pak Dhani?” Tanya Dio
“Aaaah.., gue belum ngerjain.” Timpal Febi.
“Dikumpulin besok?” Tambah Hilmi.
“Iyaa.” Jawab yang lain.
“Katanya sih gitu.”
“Ada yang udah ngerjain?” Tanya Alfi.
“Belum.” Jawab Rika
“Belum.” Balas Dini.
“Belum.” Timpal yang lain
“Kagak gua kerjain.” Tambah yang Rika.
“Tugasnya yang disuruh bikin teks laporan hasil observasi waktu itu kan?” Alfi kembali meyakinkan.
“Iya.”
“Eh, nggak usah dikerjain ya. Nggak bisa mikir gue.” Celetuk Dio.
“Hah? Beneran nih?” Tanya yang lain.
“Iya, setuju tuh. Nggak usah dikerjain, alingan Pak Dhani juga udah lupa.” Balas Febi.
“Siaap.” Ujar Hilmi
“Beneran nggak usah dikerjain nih ya..” Alfi kembali meyakinkan teman-teman sekelasnya.
“Iya bener. Udah ngantuk nih..” Timpal yang lain.
“Okay siip.”
“Mantap.”
“Assiaap.”
“Siip deh.”
Hanna membacanya, kemudian memastikan kepada teman-teman sekelasnya tentang kesepakatan besok. Dan semuanya setuju untuk tidak mengumpulkan tugas dari pak Dhani. Ia pun mencari posisi ternyamannya dan tidur pukul sepuluh malam itu.
Pagi harinya, Hanna kembali memeriksa ponsel, ia kembali meyakinkan bahwa tugas menulis teks laporan hasil observasi tidak akan dikumpulkan hari ini. Sesampainya di sekolah, semua temannya benar-benar berakting seolah tidak ada tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia mereka.
“Selamat pagi anak-anak!” Sapa guru bahasa Indonesia yang terkenal galak itu ketika memasuki ruang kelas X IPA-1.
“Pagi pak..” Balas seluruh isi kelas dengan serempak.
“Terakhir, kita sampai mana?” Tanya Pak Dhani membuka-buka buku besarnya itu.
“Teks hasil observasi Pak.” Jawab Hanna yang duduk di bangku terdepan dan paling dekat dengan guru.
“Pertemuan sebelumnya saya suruh membuat teks laporan hasl observasi tentang sekolah kita ya?”
“Hah? Tugas? Belum ada tugas pak.” Ujar Alfi mulai berakting.
“Oh belum, padahal kelas ini sudah hampir selesai materi tentang teks laporan hasil observasi loh..”
“Pak!” Seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang mengangkat tangannya. Semua pandangan menuju ke arah cewek itu.
“Ya, ada apa?” Pak Dhani melihat kea rah cewek itu.
“Saya mau  mengumpulkan tugas dari pertemuan yang lalu.” Cewek itu menyodorkan empat lembar kertas dengan judul yang dicetak tebal bertulis ‘Menulis Teks Laporan Hasil Observasi’.
Seisi kelas bergumam dan bahkan bergunjing melihat tingkah cewek penghuni kelas X IPA-1 yang tak menunjukkan solidaritasnya. Tak terkecuali Hanna. Ia menatap sinis ke arah cewek  itu. Pak Dhani pun berdiri dan menanyai satu persatu dari tiga puluh lima siswa yang tidak mengumpulkan tugas menulis teks laporan hasil observasi itu.
“Kenapa nggak mengumpulkan teks laporan hasil observasi yang saya minta?” Tanya Pak Dhani menghampiri meja Hanna.
“Belum bikin pak.” Jawab Hanna.
“Kenapa belum bikin?”
“Banyak tugas lain pak, selain membuat teks hasil observasi. Kemarin saya ikut lomba, semalam baru pulang dan belum saya kerjakan.” Jawabnya. Begitulah mayoritas siswa memberikan alasan sama ketika ditanya oleh Pak Dhani.
Setelah menanyakan alasan setiap siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan, Pak Dhani pun kembali duduk di kursi guru. Beliau tampak kesal dengan raut muka marah. Ia menghela napas panjang kemudian berdri dan menuliskan tugas untuk siswa kelas X IPA-1. Setelah menuliskan tugas untuk kelas X IPA-1 Pak Dhani kembali duduk dan melipat tangannya di atas meja.
“Jadi, tugas bagi kalian yang tidak mengumpulkan teks laporan hasil observasi hari ini, untuk minggu depan, kalian harus membuat dua teks laporan hasil observasi dengan dua objek observasi yang berbeda. Dan tugas ini harus dikumpulkan tepat waktu, bagi yang tidak mengumpulkan, jangan harap nilai rapor kalian akan bagus.” Ujar Pak Dhani tegas.
Seisi kelas pun hening, namun masih ada beberapa siswa yang menatap sinis, bahkan menggunjing cewek yang tidak menunjukkan solidaritas dengan teman sekelasnya itu. Seusai pemberian tugas, Pak Dhani tetap memutuskan untuk melaksanakan ulangan harian hari itu juga. 



 

Terimakasih sudah mengunjungi blog-ku.
Kalian bisa klik link di bawah untuk tahu lebih banyak tentangku :



https://instantstudentstudent.tumblr.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar